"BUKAN SENANG TAPI MUDAH" KALAU KITA MENJAGA ADAB DAN AJKHLAK, PERJALANAN KITA MENUJU ALLAH MENJADI MUDAH.
eBooks, Software and Downloads

Nasihat Imam al-Zahabi Kepaa Ibn Taimiyyah

Posted by Nabiha Al-Khalidiy On 1:22 AM 0 comments


al-Nasihah al-Dhahabia li ibn Taymiyya
Letter from al-Dhahabi to his former sheikh, Ibn Taymiyya
(Sincere Advice to Ibn Taymiyya, Maktab al-Misria 18863)

In the Name of Allah Most Merciful and Compassionate.
Praise be to Allah for my lowliness. O Lord, have mercy on me, diminish my mistakes, and preserve my Iman for me. What sadness at my lack of sadness; what sorrow over the sunna and the departure of its people; what longing for believing brothers to share with me in weeping; what grief over the loss of people who were light-giving lamps of Sacred Knowledge, men of taqwa, and treasure-troves of every good; alas for not finding a dirhem that is halaal or a brother who is loving.


Great good tidings to him whose own faults divert him from those of others, and woe to whom the faults of others divert him from his own.
How long will you see the speck in your brother's eye and forget the log in your own? How long will you praise yourself, your prattle, your style, while blaming religious scholars and searching out people's shameful points, knowing as you do that the Prophet (Allah bless him and give him peace) forbade it saying:
"Mention not your dead save with good, for they have gone onto what they have sent ahead."
Of course, I realise that you will defend yourself by telling me the attacks are only for those who've never smelled the scent of Islam and don't know what Muhammad (Allah bless him and give him peace) brought and that is your jihad. Not so, by Allah those who you attack know what is even better than the amount that suffices if the servant acts on it to make him succeed. Moreover, they are ignorant of a great deal that does not concern them. And "the excellence of a person's Islam includes leaving what does not concern him." By Allah man! Give us respite from you, for you are an eloquent polemicist who neither rests nor sleeps. Beware of doubt-creating, problematic religious questions. Our Prophet (Allah bless him and give him peace) was offended by too many questions, found fault with them, and forbade excessive asking. He also said:
"The thing I fear most for my people is the eloquent hypocrite."


Too much talking, if free of mistakes, hardens the heart when it concerns the halaal and haraam. So how should it be when it concerns the words of the Yunusiyya, the philosophers, and expressions of kufr, which make hearts go blind? By Allah, we've become a laughing stock in existence. How long will you disinter the details of philosophical expressions of kufr for us to refute with our minds? You've swallowed, man, the poison of the philosophers and of their works more than once; and by too much using of a poison one's constitution gets addicted. It collects, by Allah, in the body.


O, what longing for a group among whom the Qur'an is recited with reflection, where awe is experienced through its meditation, where there is silence from its contemplation. O, what longing for an assembly where the pious are mentioned, for mercy descends where the righteous people are remembered, not where the righteous are spoken of with contempt and curses. The sword of al-Hajjaj and the tongue of Ibn Hazm were brothers [ie no Muslims was safe from them], and now you have joined the family. By Allah, give us a break from talking about "the bid`a of Thursday", and "eating the grains", and rather make a serious effort to remember the bid`as we used to consider the source of all misguidance, which have now become the "genuine sunna" and the "basis of tawhid", and whoever doesn't know them is a Kafir, or a donkey, and whoever doesn't call him a Kafir is a bigger Kafir than Pharaoh. You consider the very Christians like us.


By Allah, there are misgivings in hearts. You are fortunate if your faith in the two shahadahs has remained unscathed. Oh the disappointment of him who follows you, for he is exposed to corruption in basic beliefs and to dissolution. Particularly if he is short of learning and religion, a self-indulgent idler who does well for you by fighting on your behalf with his hand and tongue, while he is actually your enemy in his being and heart. What are your followers but hidebound do-nothings of little intelligence, common liars with dull minds, silent outlanders strong in guile, or dryly righteous without understanding? If you don't believe it, just look at them and honestly assess them.


The donkey of your lusts, O Muslim, has stepped forward to applaud your self. How long will you dote on your ego and attack the finest people? How long will you credit it, and disdain the pious? How long will you exalt it, and despise the devotees? How long will you be its closest friend, and detest the abstinent? How long will you praise your own words in a manner you do not even use for the Sahihs of Bukhari and Muslim? Would that the hadiths of the two Sahihs were safe from you, as you continually attack them, by suggesting weakness, considering them fair game, or with figurative explanations and denial. Hasn't the time come to give up? Is it not it time to repent and atone? Aren't you at that tenth of a man's life when he reaches seventy years and the final departure has drawn near? Indeed, By Allah, I don't recall that you remember death much. You sneer at whoever remembers death. So I don't think you'll take to my words or hear my exhortation. You will, instead, probably show great energy and concern to demolish this piece of paper with weighty volumes, snipping off the ends of my sentences for me until you gain the upper hand and can close the argument with a triumphant "...at all. And he was silent."


If this is how you stand in my eyes, and I am someone sympathetic to you, fond and affectionate, how do you think you stand with your enemies? By Allah among your enemies, there are the righteous and intelligent men and virtuous ones, just as among your friends there are the wicked, liars, ignoramuses, layabouts, the vile, and cattle.
I can accept that you should publicly disparage me, while secretly benefiting from what I have said. "May Allah have mercy on the man who shows me my faults" [words attributed to `Umar (Allah be pleased with him)]. For I have many faults and sins, and woe to me if I myself do not repent, and how enormous my disgrace from Him who knows the Hidden. The sole remedy for me is the forgiveness of Allah and His clemency, His giving success and His guidance.


Praise be to Allah, Lord of the worlds. Allah bless our lieglord Muhammad, the Last of the Prophets, his folk and companions one and all.


Read More..
Category : edit post

Keutamaan Memandang Wajah Ulama

Posted by Nabiha Al-Khalidiy On 11:55 PM 0 comments

Mata yang memandang mempunyai pengaruh kuat dan berdampak signifikan terhadap aktivitas batiniyyah kita. Begitu kuatnya pengaruh itu sehingga mempengaruhi kekhusyu'an seseorang untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Syekh Thahir bin Saleh Al-Jazairi dalam kitabnya: Jawahirul Kalamiyah menguraikan sebuah permasalahan:

‘Bagaimana mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?' Maka dijawab bahwa tidak ada yang menghalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, karena sesungguhnya kita lihat sebagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah bisa menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan. Kalau magnet mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnet dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu. Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Karena sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak. Maka tidak mengherankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.

Kekuatan dan kecepatan pengaruh mata dalam memandang telah disinggung oleh Nabi SAW dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas Ra.:

"Pandangan mata adalah suatu kebenaran. Jika ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir (ketetapan Allah), maka sungguh pandangan mata akan mendahuluinya". (HR. Muslim). Karena itulah mata bisa membahayakan, seperti hipnotis, dll. dan Nabi SAW mengajarkan kepada kita suatu do'a:

"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syetan, binatang buas, dan pandangan mata yang membahayakan".

Sari As-Saqathi Rhm. berkata: "Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cermin darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu".[1]

Ketika anak-anak Ya'qub ingin pergi ke Mesir, menemui Yusuf As. yang ketika itu sudah menjadi Perdana Menteri, Ya'qub As. menasehati mereka: "Hai anak-anakku, janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan!" (QS. Yusuf[17]: 67)

Qatadah mengatakan bahwa Ya'qub As. mengkhawatirkan mereka dari bahaya pandangan (Al-‘Ain) orang-orang yang melihat mereka karena anak-anak Ya'qub As. tergolong orang-orang yang tampan dan berpenampilan menarik. Demikianlah Al-Quran mengisahkan tentang isyarat kuatnya pengaruh pandangan terhadap sesuatu yang diinginkan, yang dipahami oleh sebagian orang tertentu yang diberikan pengetahuan tentangnya.



Keutamaan pandangan kepada wajah seorang Ulama banyak sekali, di antaranya sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

"Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat". [2]

Imam Al-Hafizh Al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits dari 40 hadits berkenaan dengan keutamaan menuntut ilmu, yakni bersabda Rasulullah SAW:

"Pandangan sekali kepada orang Alim lebih Allah cintai daripada ibadah 60 tahun, berpuasa siang harinya dan berdiri ibadah pada malamnya". Kemudian sabda beliau SAW: "Jika tiada Ulama niscaya binasa (celaka)lah umatku".

Hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan memandang wajah orang Alim secara lahiriyyah, dikarenakan seseorang yang melakukannya akan mendapat pengaruh kekhusyu'an dan ketenangan hati sehingga mendorongnya kepada Hubbul Akhirah. Tidak semua Ulama dikategorikan seperti makna hadits di atas, karena kata ‘Ulama' menggunakan Isim Makrifah (Al-'Ulamaa-u), yang menandakan ketertentuan/kekhususan. Tentunya Ulama yang dimaksud di sini adalah Ulama yang telah mencapai kemakrifatan yang Hakiki, dimana pancaran jiwanya mampu melenyapkan sekat-sekat yang menutupi hati. Maka Rabithah, yakni memandang wajah Syekh dengan mata hati lebih diutamakan dan memiliki tempat yang khusus di kalangan Ahli-ahli Thariqat, sebagai penyatuan ruhaniyah seorang murid yang dhaif lagi faqir, dengan Syekhnya yang kamil menuju Hadhrat Allah Ta'ala.

Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ada sebagian ahli dzikir yang dapat menyebabkan orang lain ingat kepada Allah. Yakni dengan memandang wajahnya saja, membuat mereka teringat untuk dzikrullah. Hadits lain menyebutkan bahwa ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat'.[3] Atas dasar hadits ini para pembimbing dzikir (Syekh Shufi) terdahulu sangat menganjurkan untuk senantiasa mengenang wajah Syekhnya sebagai alat untuk mempermudah dzikir (ingat) kepada Allah SWT, dan yang demikian itu akan membuat dirinya tenggelam dalam lautan mahabbah dzikir-Nya.

Berkata Syekh Mushthafa Al-Bakri Rahimahullaahu Ta'ala:

"Dan di antara apa yang diwajibkan atas seorang murid adalah rabithah hatinya dengan Gurunya dan maknanya bahwa murid senantiasa mengekalkan atas penyaksian akan rupa Syekhnya. Inilah merupakan syarat yang dianjurkan bagi kaum Shufi yang mewariskan kepada maqam makrifat yang tinggi". (Hidayatus Salikin)




Read More..
Category : edit post

Pengaruh Wahhabi Dalam Perubatan Islam

Posted by Nabiha Al-Khalidiy On 2:05 PM 4 comments

Dewasa ini ketika ulama2 sunnah sedang membetulkan baris bersama-sama menentang dakyah2 Ular dalam semak Wahabi ada segelintir so called Ustaz yang mungkin tidak tahu mereka telah mengambil sanad Ruqyah dari ular dalam semak Wahabi.

Abdul Wahid Salim Bali yang terkenal dengan rawatan ruqyahnya adalah seorang Wahabi tegar. Den tidak gelar dia syeikh sebab DEN tak iktiraf dan tolak Wahabi. Mana mungkin DEN terima fahaman yang ingin memindahkan makam Rasulullah s.a.w yg cuba di pinta oleh Al-Bani Laknatullah yang mengaku pakar hadis itu. Hasrat beliau yg mengaku pakar hadis itu bagaimana pun dapat di halang oleh ulama sunnah yg pandai berhujah atas rahmat ALLAH s.w.t. Beliau banyak mempertahankan struktur2 bersejarah di Tanah Suci Islam tersebut sehingga bermimpi di kucup oleh Nabi Allah Ibrahim a.s. didalam mimpinya.


Sewajarnya mana2 perawat yang mengaku aliran Sunnah Wal Jamaah wajarlah berlaku jujur pada pesakit, mereka meruqyah dari Ijazah seorang Wahabi Orthodoks. Kenalah berlaku adil kepada pesakit yang datang kepada mereka mengharapkan keberkatan Ruqyah tetapi bukan dari Ruqyah yang di sanadkan kepada penumpah darah dan mereka yang telah membunuh beribu umat Islam di Mekah lantaran darah telah menjadi halal jika tidak mengikut fahaman mereka.


Ada seorang ketua perawat mengatakan scan itu telek..sebab dia ada pendamping. Kalau Ilmu Scan di kembangkan..Pecahle rahsia dia mempunyai pendamping. Pendamping dia siap boleh hafal ayat2 Ruqyah..ha..ha...ha...Mati-matilah ingat jin pesakit yang mengulang setiap bacaan perawat..rupa-rupanya JIN sendiri...Jin asal dah KO kena teranjang Jin pendamping dan dia pula mengambil alih tubuh pesakit. Sekurang-kurangnya ada 2 perawat yg ada pusat rawat Islam menggunakan title Ustaz ada mempunyai pendamping. Tidak cukupkah Allah sebagai Wakil..Hasbunallah Wanikmal Wakil.


Bukan susah sangat nak cek kalau tak mau pakai scan..just amalkan surah al-Mulk ayat 14 sebanyak 33x sebelum tidur dalam wuduk dalam keadaan mengiring...Berdoalah supaya Allah Tunjukan si Polan atau si Polan itu ada Pendamping atau tidak. In bukan scan tau..bukan tok belagak kasi tau..Ini Petunjuk dari ALLAH s.w.t bila korang amalkan ayat 14 surah al- Mulk. Sifu DEN ajar guna ayat ni selepas solat hajat untuk sebarang hajat.


Kenapa nak jatuh hukum bila kaedah rawatan orang berbeza..sikit2 syirik dan kurafat je..Siapa2 yang belajar dengan DEN..ramai dah belajar cara ruqyah..mana ada DEN halang..Bahkan cara Ruqyah yang DEN belajar dulu lagi banyak..salah satu Qaf 100...samapi maleh budak2 nak amal..DEN tak pernah halang pun..ahkan masa sessi traning di pusat rawatan DEN pun DEN kata bacalah apa yang korang nak baca..nak baca set penuh Ruqyah ke..nak baca Fatihah aje ke...surah AL-ikhlas aje pun tak pa..sebab itu semua ALLAH s.w.t yang punya. bukan nya baca surah ini tuhan lain..baca surah ini lain tuhannya...Semua tu Milik Allah s.w.t. Ada yang suka guna zikir..den kata zikir le..No harm..yang penting Nawaitu tu...Pada SIAPA diletakan segala pengharapan...


Kalau mana2 Perawat Wahabi tak puas hati dan mendakwa Ruqyah boleh menyelesaikan semua masalah..Silakan..DEN sedia menerima dan memberi ujian dan tantangan...Niat DEN ialah nak menunjukan ilmu Allah Maha Luas..Jangan JUMUD cam WAHABI...Kita letak beberapa ekor Jin dan cuba buang ikut kaedah memasing. Den tak sempat nak hurai Ilmu pengubatan yang selalu di gunakan oleh ulama Sufi...Iaitu Mengubat Melalui kaedah Niat. ( Sure kena cop Khurafat nya, sedangkan dibawa oleh tarikat yang muktabar )

Ada DEN coretkan serba sedikit dalam blog http://alamrahsia.blogspot.com/
Itupun sebab DEN di tanya oleh kengkawan sebab ada dalam shoutmix blog tersebut seorang akhi bercerita bab kaedah tarikat mereka yang mengubat melalui niat.
Ada seorang ayah blogger boleh berbicara dengan binatang lagi. beliau seorang perawat juga, menggunakan Ruqyah juga dan zikir nafas..datang jumpa DEN sebab ada sesuatu perkara.Amalan bercakap dengan binatang ini menggunakan 3 potong ayat Al-Quran.


Kalau Allah tak kasi manusia Ilham..Al-Quran itu tinggallah ilmunya didalam 6,232 ayat itu sahaja...Tapi Saidina Ali r.a di beri ilham..mampu menghurai Fatihah sahaja sampai 40 ekor untuk membawa kitab tafsiran. SO begitulah Ilmu berkembang..Itu belum lagi Ilmu yg ulama terkemudian kembangkan dari huraian Saidina Ali r.a ..kata orang tidak secara direct dari Fatihah tetapi ilham yg bersumber dari buah Ilham yang dikurniakan kepada Saidina Ali r.a dalam mentafsir surah tersebut. Maka berkembang le ilmu...

Ada perawat cakap ikut sheikh dia...nak buang jin biar lambat sampai 40 minit pun takpa asal ikut syariat. Salah tu...sepatutnya " Biar Cepat asal ikut syariat ".
Kalau patient 20 orang..seorang amik masa 40 minit maka 20 x 40 = 800 minit / 60 = dekat 13 jam...Apa yang DEN tahu..ada yang sampai 2 jam seorang. last2 bila pesakit datang lagi sekali dia cakap dah ok dah..takda sihir...sebenarnya rugile...dapat rawat sikit je patient..dah le tu ikhlas..kena kutu bagi rm 10...terus merundum ikhlasnya...Macam2 depa kata bila DEN cakap DEN mampu buang saka dalam 1 saat.

Jealous ke hapa...Pada DEN, kalau ada siapa2 yg lebih laju dari DEN, akan DEN tabik dan respek bukannya kondem. Waima mamat tu guna kaedah tak ikut syariat sekali pun. DEN berpegang kalau kaedah tak ikut syariat boleh di di bawah 1 saat maka Wajib kaedah Syariat Islam lebih laju..Pasti ada..NON mungkin Islam kalah...No way man...


Buktikan kaedah DEN buang saka dalam masa 1 saat itu menyalahi syariat..mana dalil yang Qotei mengatakan tidak boleh buang saka di bawah 1 saat. Tunjukan mana Ayat Al-quran atau Hadis yang menyatakan Kaedah buang saka bawah 1 saat itu menyalahi syariat...

http://darulsaka.blogspot.com/2010/04/pengaruh-wahabi-dalam-rawatan-islam.html

Read More..
Category : edit post

Followers

Pautan

Komuniti Blogger Azhari