Pandangan Imam Mazhab Tentang Thariqat Sufiyah
1. Imam Abu Hanifah RA:
Imam Abu seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.
Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.
Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.
Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi?
Imam Asy-Sya’rany, Mujathid dan Ulama besar mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.
2. Imam Malik Ra.
Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini:
“Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”
3. Imam Syafi’i Ra.
Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: “Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”
4. Imam Ahmad bin Hambal Ra.
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)”
Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”
5. Imam Al-Muhasiby RA.
Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi, “Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang.
Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat.
Setelah menggambarkan berbagai kelompok mazahab dan golongan, Al-Muhasiby mengatakan:
“Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku…….”
Semalam, tanggal 25hb. Oktober 2008 jam 2.05 petang saya mendapat sms daripada anak sahabat saya yang mengatakan ayahnya tengah nazak, tidak lama kemudian lebih kurang jam 2.30 ayahnya telah kembali ke Rahmatullah. Oleh kerana ada hal yang menghalang maka saya tidak dapat bersama-sama mereka untuk menguruskan jenazahnya keluar daripada hospital. Saya sampai ke rumahnya selepas solat asar dan didapati ramai sahabat-sahabat lain yang sudah berada di sana. Setelah memohon izin untuk melihat jenazah saya pun masuk dan membaca surah Yasin di sisinya. Selesai membaca surah Yasin saya membuka kain yang menutupi jenazah….saya amat kagum dengan anugerah Allah kepada sahabta saya yang serba sederhana dalam kehidupannnya. Saya dapati wajahnya berseri dan mengakhiri hayatnya dengan senyuman..MasyaAllah…Subhanallah..semoga ruhnya ditempatkan bersama orang-orang soleh di sisiNya. Sebelumnya..pada tanggal 13 Ramadan 1429 ayah saya telah kembali mengadap ilahi…niat di hati pada hari tersebut nak berbuka puasa dengannya, tapi Allah tak izinkan…Alhamdulillah matinya sebagai seorang yang taat kepada Allah, semoga Allah mengampuni kita dan mereka yang telah pergi mengadapnya. Aminnnn Ya Rabb al-‘Alamin.
Renungan kali ini mengajak tuan-tuan semua agar mengingati mati. Pelbagai persediaan harus kita lakukan setiap masa dan ketika untuk menghadapi kematian - Agar kematian yang kita ingini insya-Allah tercapai - iaitu Husnul Khatimah (Penyudahan Yang Baik)
Di antara petanda seseorang itu mencapai Husnul Khatimah adalah seperti berikut:
1. Sempat mengucap dua kalimah syahadah.
2. Berpeluh didahi. Sabda Rasulullah:
Bahawa matinya seseorang mukmin itu dengan keluarnya peluh di dahi.
Riwayat oleh Ahmad dan Tarmizi.
3. Mati pada malam atau hari Jumaat. Sabda Rasulullah:
Tidak seorang muslim pun yang mati pada hari atau malam Jumaat melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.
4. Mati di medan perang kerana membela agama Allah. Bagi orang yang mati syahid ada 6 kelebihan:
1. Akan diampuni dengan serta merta dosanya serta diperlihatkan tempat duduknya di syurga (kecuali mereka yang masih ada urusan hutang).
2. Diselamatkan dari seksa kubur.
3. Aman dari ketakutan yang teramat besar dan dahsyat.
4. Diperhiasi dengan iman.
5. Dikahwinkan dengan bidadari (semiskin-miskin ialah 49 bidadari).
6. Dapat memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya. Riwayat oleh Termizi, Ahamd dan Ibnu Majah.
5. Mati kerana melhirkan anak.
6. Mati kerana taun, Sabda Rasulullah:
Taun itu satu kematian syahid bagi setiap mukmin. (Hendaklah ia sabar dan redha menganggungnya).
Riwayat oleh Muslim.
7. Mati akibat sakit perut maka ia mati syahid, sabda Rasulullah:
Dan barang siapa mati kerana sakit perut maka ia mati syahid.
Riwayat oleh Muslim.
8. Mati tengelam dan tertimbus oleh bangunan.
9. Mati terbakar. Riwayat At-Tabrani.
10. Mati dalam nifas. Riwayat At-Tabrani.
11. Mati kerana sakit TB. Sabda Rasulullullah:
Orang yang mati kerana menanggung penyakit kurus kering ia mati syahid.
Riwayat Tabrani.
12. Mati akibat luka perang di jalan Allah. Sabda Rasulullah:
Barangsiapa yang luka kerana perang di jalan Allah itu mati, maka bererti ia syahid, atau kena pijak oleh unta atau kudanya atau ia mati ditempat tidurnya (setelah berperang itu) dengan sebab apa-apa pun yang dikehendaki oleh Allah, maka sesungguhnya ia adalah mati syahid dan akan masuk syurga.
Riwayat Daud.
13. Mati mempertahankan harta. Riwayat Bukhari.
14. Mati kerana mempertahankan diri. Sabda Rasulullah:
Barangsiapa terbunuh kerana mempertahankan darahnya (dirinya) maka ianya mati syahid.
Riwayat Abu Daud.
15. Mati dalam bersiap-siap untuk berperang di jalan Allah.
16. Mati ketika sedang beramal soleh seperti sedang menuntut ilmu (ilmu yang dibolehkan oleh Islam) di masjid atau sedang berdakwah.
Berkata Abu Laith - Barangsiapa yang ingin selamat dari seksa kubur maka haruslah ia melazimi 4 perkara dan meninggalkan 4 perkara:
1. Mejaga sembahyang 5 waktu.
2. Banyak bersedekah.
3. Banyak membaca Al Quran.
4. Banyak bertasbih.
Dan hendaklah ia meninggalkan:
1. Meninggalkan dusta.
2. Meninggalakan sifat khianat.
3. Meninggalkan sifat mengadu-domba.
4. Mejaga Kencing.
Wallahu a’lam.
Ada orang bertanya pada ambo, pasai apa terdapat golongan yang menolak Ibn Taimiyyah (wafat 728H) sedangkan kebanyakkan ulama kontemporari menerimanya bahkan mengagung-agungkannya?
Maka ambo katakan padanya bahwa, yang sangat mengagungkan Ibn Taimiyyah ni kebanyakan dari ulama Wahhabi saja. Ramai dikalangan ulama ahl al-Sunnah wa al-Jamaah menolaknya samada dikalangan ulama terdahulu mahupun masakini. Bahkan, Ibn Taimiyyah juga ditolak oleh kebanyakkan ulama yang sezaman dengannya kerana masalah berkaitan dengan aqidahnya dan juga didalam masalah fiqih dimana banyak pendapat-pendapat Ibn Taimiyyah yang menyalahi ijma ulama. Itu secara ringkasnya lah. Dan ada juga yang bersangka baik dengannya. Macam-macamlah.
Maka untuk mengetahui siapakah ulama yang menolak Ibn Taimiyyah, ambo bawa mari senarai yang tertulis didalam buku bertajuk Wahabisme Dari Neraca Syara oleh Syaikh Muhammad Fuad Kamaludin al-Maliki. Antaranya adalah seperti berikut:
1. Al-Qadhi al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah al-Syafie (wafat 733H)
2. Al-Qadhi Muhammad ibn al-Hariri al-Anshori al-Hanafi
3. Al-Qadhi Muhammad ibn Abu Bakar al-Maliki
4. Al-Qadhi Ahmad ibn Umar al-Maqdisi (Ibn Taimiyyah telah dipenjarakan dengan fatwa yang ditandatangani oleh mereka berempat diatas. Pembaca boleh merujuk kepada kitab Uyun al-Tawarikh karangan Imam al-Kutbi. Al-Hafidz al-Faqih al-Subki menyebut di dalam kitabnya Fatawa al-Subki:وحبس بإجماع العلماء وولاة الأمور Artinya: Ibn Taimiyyah dipenjara dengan ijma’ ulama’ dan pemerintah
5. Syaikh Sholeh ibn Abdullah al-Batoihi (wafat 707H)
6. Syaikh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan ‘Ali al-Siraj al-Rifa’ie al-Quraisyi al-Syafie
7. Qadhi Besar Mesir, Ahmad ibn Ibrahim al-Hanafi (wafat 710H)
8. Qadhi Besar Mazhab Maliki di Mesir, Ali ibn Makhluf (wafat 718H). Beliau berkata: Ibn Taimiyyah menyatakan bahawa Tuhan berjisim. Bagi kami, sesiapa yang beri’tiqad dengan I’tiqad ini adalah kufur dan wajib di bunuh.
9. Syaikh al-Faqih ‘Ali ibn Ya’qub al-Bakari (wafat 724H). Ketika Ibn Taimiyyah masuk ke Mesir, beliau adalah orang yang paling lantang menolak fahman yang dibawa oleh Ibn Taimiyyah.
10. Al-Faqih Syamsuddin ibn ‘Adlan al-Syafie (wafat 749H). Beliau berkata Ibn Taimiyyah berkata: Allah Ta’ala diatas ‘Arasy secara haqiqi dan Allah Ta’ala berkata dengan huruf dan suara.
11. Al-Hafidz al-Mujtahid Taqiyuddin al-Subki (wafat 756H).
12. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Usuli al-Faqih Muhammad ibn Umar ibn al-Makki al-Syafie (wafat 716H). Beliau pernah berdebat dengan Ibn Taimiyyah.
13. Al-Hafidz Abu Sa’id Sholahuddin al-‘Ala’i (wafat 761H)
14. Qadhi Besar Madinah al-Munawwarah Abu ‘Abdillah ibn Musallam ibn Malik al-Solihi al-Hanbali (wafat 726H)
15. Syaikh Ahmad ibn Yahya al-Kalabi al-Halabi (wafat 733H)
16. Al-Qadhi Kamluddin al-Zamalkani (wafat 727H)
17. Al-Qadhi Shofiyuddin al-Hindi (wafat 715H). Beliau pernah berdebat dengan Ibn Taimiyyah.
18. Al-Faqih al-Muhaddits ‘Ali ibn Muhammad al-Baji al-Syafie (wafat 714H)
19. Al-Muarrikh al-Faqih al-Mutakallim al-Fakhr ibn al-Mu’allim al-Quraisyi (wafat 725H)
20. Al-Faqih Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Ali al-Mazani al-Dimasyqi (wafat 721H)
21. Al-Faqih Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Syairazi (wafat 733H)
22. Al-Faqih al-Muhaddits Jalaluddin Muhammad al-Qazwini al-Syafie (wafat 739H)
23. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (wafat 745H). [ Tambahan dari ambo:- Abu Hayyan al-Andalusi al-Nahwiyyu al-Mufassiru al-Muqri-u menegaskan dalam kitab tafsirnya al-Nahr al-Mad satu ungkapan yang berbunyi : “Saya telah membaca dalam kitab Ahmad Bin Taimiyyah, beliau ini merupakan seorang yang hidup sezaman dengan kami dan ia adalah dengan tulisan tangannya sendiri yang dinamakan sebagai Kitab Al-Arasy, bahawa Allah duduk di atas al-Kursi dan Dia mengosongkan satu tempat untuk didudukkan disitu Nabi Sollallahu A'laihi Wassallam bersamanya dan telah bertahayyyul Taj Bin Muhammad Bin Ali Abdul Haqqi al-Barnabary. Dia adalah adalah penyeru yang paling menonjol baginya (Ibn taymiyah) sehinggalah diambil daripadanya dan kami bacakan apa yang sedemikian itu termaktub di dalamnya.” – dipetik dari blog abu lehyah)
24. Al-Hafidz al-Zahabi (wafat 748H)
25. Syaikh Afifuddin Abdullah ibn ‘As’ad al-Yafi’i al-Yamni al-Makki (wafat 768H)
26. Al-Faqih Ibn Batutah (wafat 779H)
27. Al-Faqih Tajuddin al-Subki (wafat 771H)
28. Al-Muarrikh Ibnu Syakir al-Kutbi (wafat 764H)
29. Syaikh Umar Abi al-Yamn al-Lakhmi al-Fiqihi al-Malihi (wafat 734H)
30. Qadhi Muhammad al-Sa’di al-Misri al-Akhna’i (wafat 750H)
31. Syaikh Isa al-Zawawi (wafat 743H)
32. Syaikh Ahmad ibn Utsman al-Hanafi (wafat 744H)
33. Al-Hafidz ‘Abdurrahman ibn Ahmad, masyhur dengan gelaran Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795H)
34. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852H)
35. Al-Muhaddits al-Hafidz al-Faqih Waliyuddin al-Iraqi (wafat 726H). Beliau menyebut didalam kitabnya al-Ajwibah al-Mardhiyah ‘ala al-As’ilah al-Makkiyah: “Beliau (Ibn Taimiyyah) telah mencarik persepakatan ijma di dalam banyak masalah (agama) sehingga dikatakan sampai kepada 60 permasalahan. Sebahagiannya di dalam perkara ushul dan selebihnya lagi di dalam perkara furu’.”
36. Al-Faqih al-Muarrikh Ibnu Qadhi Syuhbah al-Syafie (wafat 851H)
37. Al-Faqih Abu Bakar al-Hisni (wafat 829H)
38. Syaikh Abu ‘Abdillah ibn ‘Arafah al-Tunisi al-Maliki (wafat 803H)
39. Al-‘Allamah ‘Alauddin al-Bukhari al-Hanafi (wafat 841H). Beliau mengeluarkan fatwa tentang pengkafiran Ibn Taimiyyah dan juga bagi mereka yang menggelarkan Ibn Taimiyyah sebagai Syaikhul Islam setelah mengetahui perkataan-perkataan kafir yang diucapkan oleh Ibn Taimiyyah.
40. Syaikh Humaiduddin al-Farghani al-Hanafi (wafat 867H)
41. Syaikh Zarruq al-Fasi al-Maliki (wafat 899H)
42. Al-Hafidz al-Sakhawi (wafat 902H)
43. Ahmad ibn Muhammad atau masyhur dengan panggilan Ibnu salam al-Misri (Wafat 931H)
44. Syaikh Ahmad ibn Muhammad al-Watari (wafat 980H)
45. Syaikh Ahmad ibn Muhammad al-Khuwarizmi (wafat 987H)
46. Qadhi al-Biyadhi al-Hanafi (wafat 1098H)
47. Syaikh Ibn Hajar al-Haithami (wafat 974H). Beliau menyebut di dalam kitabnya Fatawa al-Haditsiah: “… Dan berhati-hatilah terhadap kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan anak muridnya Ibn Qayyim al-Jauziyyah dan selain daripada mereka berdua yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai Tuhan mereka dan Allah menyesatkan mereka di atas ilmu dan menutup pendengaran dan hati-hati mereka dan menghalang penglihatan mereka ….”. Didalam kitab Hasyiah Idhoh beliau berkata: “… jangan tertipu dengan keingkaran Ibn Taimiyyah terhadap sunat menziarahi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, kerana dia merupakan hamba yang telah disesatkan oleh Allah Ta’ala sebagaimana yang dikatakan oleh al-‘Izz ibn Jama’ah….”
48. Syaikh Jalauddin al-Duwani (wafat 928H)
49. Syaikh Abdul Nafi’ ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Iraq al-Dimasyqi (wafat 962H)
50. Qadhi Abu Abdillah al-Muqri
51. Mulla ‘Ali al-Qari (wafat 1014H)
52. Syaikh Abdul Rauf al-Munawi al-Syafie (wafat 1031H)
53. Al-Muhaddits Muhammad ibn ‘Allan al-Siddiqi al-Makki (wafat 1057H)
54. Syaikh Ahmad al-Khufaji al-Misri al-Hanafi (wafat 1096H)
55. Al-Muarrikh Ahmad Abu al-Abbas al-Muqri (wafat 1041H)
56. Syaikh Muhammad al-Zarqani al-Maliki (wafat 1122H)
57. Syaikh Abdul Ghani al-Nabulisi (wafat 1143H)
58. Syaikh Muhammad al-Mahdi ibn ‘Ali al-Siyadi (wafat 1287H)
59. Sayyid Muhammad Abul Huda al-Siyadi (wafat 1328H)
60. Mufti Musthafa ibn Ahmad al-Syatti al-Hanbali al-Dimasyqi (1348H)
61. Syaikh Muhammad Khattab al-Subki (wafat 1352H)
62. Mufti Madinah al-Munawwarah, Syaikh al-Muhaddits Muhammad al-Khidir al-Syanqithi (wafat 1353H)
63. Syaikh Salamah al-‘Azzami al-Syafie (wafat 1376H)
64. Mufti Mesir, Syaikh Muhammad Bakhit al-Muti’i (wafat 1354H)
65. Syaikh Muhammad Zahid al-Kauthari (wafat 1371H)
66. Syaikh Ibrahim ibn Utsman al-Samhudi al-Misri
67. Syaikh Muhammad Yusuf al-Banuri al-Bakistani
68. Syaikh Muhammad al-A’rabi al-Tabbani (wafat 1390H)
69. Syaikh Mansur Muhammad Uwais
70. Al-Hafidz ibn al-Siddiq al-Ghumari (wafat 1380H)
71. Al-Muhaddits Abdullah al-Ghumari (wafat 1413H)
72. Al-Musnid al-Habib Abu al-Asybal Salim ibn Ahmad ibn Jindan (wafat 1389H)
73. Syaikh Muhammad ibn Isa Badran al-Misri
74. Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami. Beliau telah mengkafirkan Ibn Taimiyyah di dalam kitabnya Ghauth al-‘Ibad bi Bayani al-Rasyad. Kitab tersebut telah diiktiraf oleh beberap orang ulama’ besar yang menulis pujian terhadapnya. Diantaranya Syaikh Muhammad Sa’id al-‘Urfi, Syaikh Yusuf al-Dijwi – anggota Majlis Ulama Besar al-Azhar, Syaikh Mahmud Abu Daqiqah, Syaikh Muhammad al-Buhairi, Syaikh Muhammad Abdul Fattah ‘Itani, al-Muhaddits Syaikh Habibullah al-Syanqiti, Syaikh Dusuqi Abdullah al-‘Arabi dan Syaikh Muhammad Hifni Bilal
75. Al-Muhaddits Syaikh Abdullah al-Harari.
Begitulah senarai ulama yang menolak Ibn Taimiyyah .... dan ramai lagi ulama yang menolak ibn Taimiyyah.
