"BUKAN SENANG TAPI MUDAH" KALAU KITA MENJAGA ADAB DAN AJKHLAK, PERJALANAN KITA MENUJU ALLAH MENJADI MUDAH.
eBooks, Software and Downloads

Pandangan Imam Mazhab Tentang Thariqat Sufiyah

Posted by Nabiha Al-Khalidiy On 4:47 AM 0 comments

Pandangan Imam Mazhab Tentang Thariqat Sufiyah

1. Imam Abu Hanifah RA:
Imam Abu seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.
Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.
Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariah dan haqiqah. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah Ta’ala, berkah Tasawuf yang diamalkannya.
Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi?
Imam Asy-Sya’rany, Mujathid dan Ulama besar mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.

2. Imam Malik Ra.
Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini:
“Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.”

3. Imam Syafi’i Ra.
Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: “Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf.”

4. Imam Ahmad bin Hambal Ra.
Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)”
Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

5. Imam Al-Muhasiby RA.
Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi, “Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang.
Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat.
Setelah menggambarkan berbagai kelompok mazahab dan golongan, Al-Muhasiby mengatakan:
“Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku…….”

Read More..

Petanda Mati Dalam Husnul Khatimah

Posted by Nabiha Al-Khalidiy On 2:19 AM 0 comments

Semalam, tanggal 25hb. Oktober 2008 jam 2.05 petang saya mendapat sms daripada anak sahabat saya yang mengatakan ayahnya tengah nazak, tidak lama kemudian lebih kurang jam 2.30 ayahnya telah kembali ke Rahmatullah. Oleh kerana ada hal yang menghalang maka saya tidak dapat bersama-sama mereka untuk menguruskan jenazahnya keluar daripada hospital. Saya sampai ke rumahnya selepas solat asar dan didapati ramai sahabat-sahabat lain yang sudah berada di sana. Setelah memohon izin untuk melihat jenazah saya pun masuk dan membaca surah Yasin di sisinya. Selesai membaca surah Yasin saya membuka kain yang menutupi jenazah….saya amat kagum dengan anugerah Allah kepada sahabta saya yang serba sederhana dalam kehidupannnya. Saya dapati wajahnya berseri dan mengakhiri hayatnya dengan senyuman..MasyaAllah…Subhanallah..semoga ruhnya ditempatkan bersama orang-orang soleh di sisiNya. Sebelumnya..pada tanggal 13 Ramadan 1429 ayah saya telah kembali mengadap ilahi…niat di hati pada hari tersebut nak berbuka puasa dengannya, tapi Allah tak izinkan…Alhamdulillah matinya sebagai seorang yang taat kepada Allah, semoga Allah mengampuni kita dan mereka yang telah pergi mengadapnya. Aminnnn Ya Rabb al-‘Alamin.
Renungan kali ini mengajak tuan-tuan semua agar mengingati mati. Pelbagai persediaan harus kita lakukan setiap masa dan ketika untuk menghadapi kematian - Agar kematian yang kita ingini insya-Allah tercapai - iaitu Husnul Khatimah (Penyudahan Yang Baik)
Di antara petanda seseorang itu mencapai Husnul Khatimah adalah seperti berikut:
1. Sempat mengucap dua kalimah syahadah.
2. Berpeluh didahi. Sabda Rasulullah:
Bahawa matinya seseorang mukmin itu dengan keluarnya peluh di dahi.
Riwayat oleh Ahmad dan Tarmizi.
3. Mati pada malam atau hari Jumaat. Sabda Rasulullah:
Tidak seorang muslim pun yang mati pada hari atau malam Jumaat melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.
4. Mati di medan perang kerana membela agama Allah. Bagi orang yang mati syahid ada 6 kelebihan:
1. Akan diampuni dengan serta merta dosanya serta diperlihatkan tempat duduknya di syurga (kecuali mereka yang masih ada urusan hutang).
2. Diselamatkan dari seksa kubur.
3. Aman dari ketakutan yang teramat besar dan dahsyat.
4. Diperhiasi dengan iman.
5. Dikahwinkan dengan bidadari (semiskin-miskin ialah 49 bidadari).
6. Dapat memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya. Riwayat oleh Termizi, Ahamd dan Ibnu Majah.
5. Mati kerana melhirkan anak.
6. Mati kerana taun, Sabda Rasulullah:
Taun itu satu kematian syahid bagi setiap mukmin. (Hendaklah ia sabar dan redha menganggungnya).
Riwayat oleh Muslim.
7. Mati akibat sakit perut maka ia mati syahid, sabda Rasulullah:
Dan barang siapa mati kerana sakit perut maka ia mati syahid.
Riwayat oleh Muslim.
8. Mati tengelam dan tertimbus oleh bangunan.
9. Mati terbakar. Riwayat At-Tabrani.
10. Mati dalam nifas. Riwayat At-Tabrani.
11. Mati kerana sakit TB. Sabda Rasulullullah:
Orang yang mati kerana menanggung penyakit kurus kering ia mati syahid.
Riwayat Tabrani.
12. Mati akibat luka perang di jalan Allah. Sabda Rasulullah:
Barangsiapa yang luka kerana perang di jalan Allah itu mati, maka bererti ia syahid, atau kena pijak oleh unta atau kudanya atau ia mati ditempat tidurnya (setelah berperang itu) dengan sebab apa-apa pun yang dikehendaki oleh Allah, maka sesungguhnya ia adalah mati syahid dan akan masuk syurga.
Riwayat Daud.
13. Mati mempertahankan harta. Riwayat Bukhari.
14. Mati kerana mempertahankan diri. Sabda Rasulullah:
Barangsiapa terbunuh kerana mempertahankan darahnya (dirinya) maka ianya mati syahid.
Riwayat Abu Daud.
15. Mati dalam bersiap-siap untuk berperang di jalan Allah.
16. Mati ketika sedang beramal soleh seperti sedang menuntut ilmu (ilmu yang dibolehkan oleh Islam) di masjid atau sedang berdakwah.
Berkata Abu Laith - Barangsiapa yang ingin selamat dari seksa kubur maka haruslah ia melazimi 4 perkara dan meninggalkan 4 perkara:
1. Mejaga sembahyang 5 waktu.
2. Banyak bersedekah.
3. Banyak membaca Al Quran.
4. Banyak bertasbih.
Dan hendaklah ia meninggalkan:
1. Meninggalkan dusta.
2. Meninggalakan sifat khianat.
3. Meninggalkan sifat mengadu-domba.
4. Mejaga Kencing.
Wallahu a’lam.

Read More..

Followers

Pautan

Komuniti Blogger Azhari